Media
Language

Memetik Pelajaran dari Tekad Peraih Beasiswa Erasmus Eka Satria Putra untuk Berkuliah di Portugal

Last updated on 15 Sep 2019

IMG_20170114_232538.jpg

Oleh Erzawansyah
Eka Satria Putra, alumnni jurusan Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sempat terkejut ketika mengetahui bahwa program kemitraan kampusnya dengan Erasmus sudah tidak dibuka kembali.

Padahal, sejak awal masuk kuliah dulu, tepatnya tahun 2012, ia sudah menanti-nanti saat dimana dirinya punya kesempatan untuk melakukan pendaftaran.

Eh, waktu sudah bisa daftar, ternyata programnya sudah tutup,” kata pria kelahiran Nusa Tenggara Barat itu.

Sejak baru masuk S1, Eka sudah mengetahui program Erasmus Mundus. Untuk itu, saat masuk ke jenjang perguruan tinggi, ia memilih UMM sebagai kampusnya.

Hal ini karena setahu Eka, waktu itu kampus tersebut masih menjadi salah satu university partner dari program Erasmus. dimana setiap mahasiswa di sana boleh mendaftar ketika masa studinya sudah memasuki tahun ketiga.

Itu kenapa Eka terkejut waktu tahu kalau program kemitraan di kampusnya sudah berhenti. Keinginannya untuk mengikuti program Erasmus itu ia tunggu-tunggu sejak tahun pertama dirinya masuk ke jenjang perguruan tinggi.

Tapi, tentunya kondisi ini tidak membuat keinginannya mengikuti program Erasmus itu berhenti. Lantaran di kampusnya sudah tidak lagi menjalin kerjasama dengan Erasmus, maka Eka mencoba mencari informasi sendiri.

Jalan yang ditempuh Eka untuk mencari informasi pendaftaran dan melakukan pendaftaran terbilang anti-mainstream. Selama ini, kebanyakan orang tahunya beasiswa Erasmus hanya bisa diajukan oleh mahasiswa dari perguruan tinggi yang bermitra dengan Erasmus (University Partner).

Namun, di tengah kondisi bahwa kampusnya tak lagi membuka program kemitraan tersebut, Eka tetap mencoba untuk melakukan pendaftaran.

Ia langsung menghubungi koordinator Erasmus Mundus Exchange Scholarship LEADER Project, salah satu program beasiswa di bawah Erasmus+ Action 2, melalui email.

Koordinator LEADER Project sangat welcome dan responsif atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Eka mengenai program beasiswanya. “Jadi langsung dikasih petunjuk, saya ikuti saja petunjuk dari koordinatornya,” tutur Eka.

Hasilnya Positif.

Eka berhasil mendapatkan program beasiswa untuk mengikuti studi di Eropa, tepatnya di University of Evora jurusan International Relations, Portugal selama dua semester, pada tahun 2016-2017.

Beasiswa tersebut ia dapat di tengah masa studi S1-nya masih berlangsung.


Temukan daftar beasiswa kuliah di Eropa, di sini.


IMG_20161120_122349.jpg

Pengalaman Eka Kuliah di Portugal

Setelah berangkat ke Portugal, Eka menemukan beberapa pengalaman yang menarik. Pengalaman-pengalaman tersebut bisa menjadi wawasan sendiri bagi kita yang berencana kuliah di Portugal, atau mengajukan beasiswa Erasmus.

1. Sistem Pendidikan di Portugal

Bagi kamu yang khawatir tak mampu mengikuti sistem pendidikan di Eropa, Portugal merupakan negara yang tepat untuk menjadi destinasi kamu melanjutkan studi. Sebab, sistem pendidikan di Portugal tidak jauh berbeda daripada di Indonesia. Jadi, kamu dipastikan bakal lebih mudah beradaptasi di sana.

Meski tidak jauh berbeda dari di Indonesia, Eka mengatakan bahwa sistem perkuliahan di Portugal tidak memberikan tugas yang bertumpuk-tumpuk. Sehingga, mahasiswanya bisa lebih leluasa untuk mengeksplorasi diri di luar kampus.

Satu hal yang menarik lagi, di Portugal, hasil yang akan kamu dapat selama proses kuliah berlangsung lebih tidak dapat diperkirakan. Berdasarkan pengalaman Eka, di Indonesia ia bisa menilai bahwa hasil tes ujiannya bagus. Namun, di sana, bisa jadi kita memperkirakan bahwa nilai ujian bagus, tapi justru hasinya buruk, begitu pun sebaliknya. Hal ini bisa menjadi tantangan sendiri bagi kamu agar lebih giat mengikuti proses perkuliahan.

2. Suka Jalan-Jalan Melihat Hal-Hal Baru

Sebelumnya Eka bukan tipe orang yang suka jalan-jalan atau pergi ke luar dengan berbagai tujuan. Akan tetapi, belakangan, setelah ia merasakan pengalaman kuliah di Portugal, Eka secara tidak langsung jadi ingin terus jalan-jalan ke luar negeri.

Bisa jadi hal ini karena Eka secara tidak sadar memiliki rasa penasaran untuk melihat hal-hal baru yang ada di luar. Oleh karena itulah, kuliah di Eropa barangkali bisa jadi solusi bagi kamu yang malas untuk jalan-jalan melihat hal-hal baru yang ada di luar Indonesia.


Baca juga: 5 Alasan Untuk Kuliah di Portugal


3. Akomodasi di Portugal

Untuk program Erasmus, ada perbedaan jumlah pendanaan yang diberikan kepada mahasiswa dari Asia dan dari Eropa. Jumlah pendanaan yang diberikan kepada mahasiswa dari Asia, biasanya lebih besar daripada di Eropa.

Hal ini berpengaruh pada kesempatan untuk memilih tempat tinggal. Karena jumlah pendanaan yang diberikan kepada mahasiswa dari Eropa lebih rendah, maka hanya mahasiswa dari Eropa saja yang diizinkan untuk tinggal di Asrama, dimana notabene, biaya sewanya lebih rendah. Sedangkan untuk mahasiswa dari Asia, harus mencari tempat tinggal di luar asrama (apartemen misalnya) yang notabene memiliki biaya sewa lebih tinggi.


Baca juga: Kota-kota pelajar terpopuler di Portugal


IMG_20161120_144734.jpg

Pelajaran dari Tekad Eka Kuliah di Portugal

Ada beberapa pelajaran yang bisa dipetik dari pengalaman Eka kuliah di Portugal.

1. Gali Informasi Sebanyak-Banyaknya

Eka sendiri mengaku bahwa ia tidak memiliki teman yang bisa ditanyai soal informasi mengenai beasiswa yang ia ingin tuju. Oleh karena itulah, ia berusaha sendiri untuk menggali informasi sebanyak-banyaknya.

Hal ini menurutnya sangat penting. Mengingat kalau kriteria dan tata cara pendaftaran untuk setiap program beasiswa itu berbeda-beda. Untuk beasiswa dari Erasmus yang memiliki banyak program di bawahnya saja, punya ketentuan yang berbeda-beda. Belum lagi ketentuan dari masing-masing perguruan tinggi di Eropa.

Dan, bahkan kiat menulis Motivation Letter saja ia dapatkan berkat usahanya mencari informasi di internet. Padahal sebelumnya, ia tidak pernah menulis motivation letter tersebut.

Oleh karena itulah, menggali informasi sebanyak-banyaknya merupakan hal wajib untuk dilakukan sebelum kita mencoba untuk mengajukan beasiswa.

2. Jangan Malu Bertanya

Jalur yang Eka tempuh untuk meraih beasiswa LEADER Project dari Erasmus+ Action 2 cukup berbeda dari jalur lainnya. Tanpa memikirkan apakah kampusnya memiliki program kemitraan dengan Erasmus atau tidak, ia tetap melakukan pendaftaran di program tersebut.

Kuncinya ada pada usahanya untuk bertanya langsung kepada pihak penyelenggara program.

Email, yang penting email saja. Mau nanti itu direspon atau tidak, yang penting email saja,” katanya.

Ya, menurut Eka, jangan segan-segan untuk bertanya langsung kepada pihak panitia. Bahkan, persoalan administrasi yang menyangkut kemampuan berbahasa Inggris saja, bisa ia lewati karena ia tidak segan-segan bertanya.

Waktu itu saya tidak punya nilai tes IELTS. Akhirnya saya tanya ke koordinator LEADER Project, bagaimana kalau pakai nilai tes Bahasa Inggris dari kampus saja. Ternyata, bisa,” ungkap Eka.

3. Sering-Sering Daftar Program ke Luar Negeri

Nah, kalau ini menurut Eka bisa menjadi salah satu strategi untuk melatih kemampuan berbahasa Inggris kita. Bisa dikatakan, Eka lemah dalam kemampuan writing di bahasa Inggris. Akan tetapi, karena ia sering melakukan pendaftaran untuk ikut program atau event ke luar negeri, lama kelamaan kemampuan menulis dalam bahasa Inggris yang dimiliki Eka jadi semakin terasah.

Selain bagus untuk melatih kemampuan berbahasa Inggris, mendaftarkan diri program-program ke luar negeri juga dapat menambah wawasan. Sebab kalau keterima, kita tidak hanya bisa menambah jaringan, tapi juga memiliki wawasan yang lebih universal.

Kalau sering ke luar negeri, kita jadi tidak perlu kaget dengan perbedaan-perbedaan yang ada di setiap negara,” jelas Eka yang juga mengaku sering ikut beberapa program di negara-negara yang berbeda.

4. Niat adalah Kunci

Proses Eka sampai ia bisa menerima beasiswa untuk berangkat ke Portugal cukup panjang.

Ia dihadapi dengan beberapa kondisi yang bisa dibilang tidak mendukung keinginannya untuk merasakan kuliah di sana.

Mulai dari keluarga yang sempat tidak men-support, sampai kenyataan bahwa skripsinya tidak bisa dikerjakan dari jarak jauh, karena dosen pembimbing Eka tidak menerima bimbingan via email, padahal jelas-jelas skripsinya harus sudah diselesaikan.

Akan tetapi, menurut Eka, niat adalah satu-satunya yang bisa membuat Eka berhasil meraih beasiswa LEADER Project. “Sebab kalau niat, pasti bisa. Soalnya kita jadi terdorong untuk berusaha semaksimal mungkin,” jelasnya.

Nah, bagaimana menurutmu pengalaman Eka Satria Putra berkuliah di Portugal? Apa kamu tertarik untuk mengikuti langkah Eka untuk kuliah ke Eropa?


Untuk info lengkap kuliah di Portugal, klik di sini.