Media
Language

Mengikuti Perkembangan Bidang Hukum dengan Studi ke Belanda Lewat Beasiswa StuNed

Last updated on 23 Sep 2018

law faculty.jpeg Affan Giffari di depan gedung Fakultas Hukum, Tilburg University

Oleh Kristantinova

Menekuni bidang hukum merupakan passion bagi Affan Giffari. Setelah mendapatkan gelar Sarjana Hukum dari Universitas Padjajaran, Affan bekerja kurang lebih 10 tahun di salah satu law firm di Indonesia sebagai Corporate Lawyer. Merasa harus menambah pengetahuan dan mengembangkan kemampuannya terutama di bidang hukum, Affan memutuskan untuk break dari pekerjaannya dan melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Tilburg University menjadi destinasi universitas yang ia pilih untuk melanjutkan studi S2 nya dengan jurusan Law & Technology.

Mengapa Memilih Belanda?

Awalnya Affan memiliki dua pilihan negara yang ingin dituju untuk menempuh studi S2-nya, Inggris dan Belanda. Pada akhirnya, Affan memutuskan untuk memilih Belanda karena selain alasan biaya hidup di Belanda yang relatif lebih murah, program studi yang ingin ia ambil yaitu Law & Technology di Tilburg University yang menurutnya lebih baik dibandingkan di Inggris. Program studi ini sudah lebih well-established dan dibimbing oleh profesor-profesor yang sudah lama bergelut di bidang tersebut. Selain itu menurut Affan, salah satu mata kuliah pada program studi Law & Technology yaitu Personal Data Protection yang ada di Tilburg University sudah banyak mempublikasikan karya-karya ilmiah yang membuatnya tertarik dan semakin mantap untuk menekuni program studi tersebut.


Untuk daftar lengkap beasiswa Kuliah ke Belanda, klik di sini.


Meraih tiket S2 melalui jalur beasiswa

Awalnya Affan mencoba untuk mendaftarkan dirinya pada program beasiswa LPDP pada tahun 2015 namun gagal. Pada kali kedua, Affan mencoba mendaftarkan diri untuk beasiswa StuNed pada tahun 2016. Melihat kegagalannya pada beasiswa LPDP, Affan merasa perlu menambah kemampuan dan kontribusinya dalam masyarakat untuk menambah bobot dirinya dan memperbesar peluangnya mendapatkan beasiswa StuNed. Pada akhirnya, Affan berhasil mendapatkan beasiswa StuNed di tahun 2017 dan telah memulai proses studinya di Belanda pada September 2017 silam.

Pentingnya memperkaya diri sebelum mendaftar beasiswa

Berbekal pengalamannya yang sempat gagal di beasiswa LPDP, Affan merasa ia perlu memperkaya dirinya. Maka dari itu, selama kurang lebih satu tahun Affan mengikuti berbagai kegiatan ekstrakurikuler/sosial di luar kantor. Ia aktif dalam organisasi ICLC (Indonesian Cyber Law Community) dan SOCOLAS (Social Corporate Lawyer Society).

Selain memperkaya diri dengan kegiatan-kegiatan keorganisasian, Affan juga memperkaya sikap dan personality-nya dengan kedisiplinan dan konsistensi. Menurutnya, kedisiplinan dan konsistensi dalam proses persiapan adalah hal yang krusial dan penting dalam pendaftaran beasiswa. Banyak calon peserta yang gagal mempersiapkan dirinya untuk mendaftar beasiswa karena tidak mampu mengatur waktu antara urusan pekerjaan dan urusan persiapan beasiswa. Berdasarkan pengalamannya, cara Affan dalam membagi waktu adalah dengan meluangkan waktu akhir pekannya untuk belajar dan mempersiapkan berkas administratif beasiswa. Beberapa beasiswa mengharuskan kita untuk membuat deskripsi mengenai tesis yang ingin kita teliti saat studi nanti dan untuk membuat deskripsi tersebut diperlukan riset yang banyak terutama mengenai aplikasi hukum Eropa terhadap subjek tesis yang dipilih. Maka dari itu, Affan banyak melakukan riset untuk terus menyempurnakan esainya di sela-sela waktunya di akhir pekan.

Hal lain yang juga perlu diperkaya oleh Affan adalah kemampuan berbahasa Inggrisnya. Jika dihitung-hitung, Affan perlu mengikuti tes IELTS sebanyak 3 kali untuk bisa mendapatkan hasil yang sesuai dengan ekspektasinya dan dirasa mampu untuk bersaing dalam mendapatkan beasiswa StuNed. Perjuangannya untuk mendapatkan hasil tersebut tidaklah mudah. Waktu diluar jam kantor ia gunakan untuk mengerjakan latihan-latihan dari buku latihan IELTS dan latihan IELTS dari berbagai sumber yang tersedia di internet. Affan juga mengikuti kelas weekend untuk persiapan IELTS.

DSCF5032-01.jpeg Affan Giffari di Carnaval Week (Februari 2018), Belanda


Ingin kuliah di Tilburg University seperti Affan? Klik di sini untuk informasi lebih lanjut mengenai kuliah di Tilburg University, Belanda.


Pengalaman studi di Belanda

50% mahasiswa di program studi yang Affan ambil yaitu Law & Technology merupakan mahasiswa internasional yang bukan berasal dari negara Belanda. Mahasiswa dari Indonesia sendiri hanya dua orang termasuk Affan, dan hanya empat orang berasal dari negara Asia, yaitu India dan Thailand.

Pada beberapa kelas pilihan yang kuota mahasiswanya lebih kecil, kegiatan pembelajaran banyak dilakukan secara interaktif dengan keutamaan presentasi dan diskusi dua arah. Pada kelas-kelas ini terdapat banyak sharing dari mahasiswa-mahasiswa yang berasal dari negara Eropa yang lebih mengenal sistem hukum Eropa dan mahasiswa dari luar Eropa banyak memberikan input dan melakukan perbandingan dengan sistem hukum yang ada di negaranya.

Melalui program studi yang sedang ia pelajari saat ini, Affan memperoleh banyak pengetahuan khususnya mengenai EU legal framework di bidang teknologi. Sebagai contoh, bagaimana peraturan mengenai Personal Data Protection berikut implementasinya, bagaimana aspek hukum, etika dan sosiologi dalam penerapan teknologi di sektor public healthcare, dan bagaimana pengaturan mengenai bisnis e-commerce dan tanggung jawab hukum para pihak yang terlibat dalam transaksi e-commerce.


Untuk melihat universitas lain di Belanda, klik di sini.


Merasakan perbedaan sistem belajar di Belanda dan Indonesia

Menurut Affan, sistem belajar di Belanda dibagi menjadi dua sistem pendidikan, applied sciences dan research-based. Kebanyakan mahasiswa Indonesia yang studi di Belanda mengambil program research-based yang mana tugas akhirnya mengerjakan tesis seperti di Indonesia. Namun yang membedakan, metode pengerjaan tesis di Belanda lebih komprehensif. Sedangkan dari sistem kelas, sistem yang digunakan kurang lebih sama dengan di Indonesia yaitu seperti sistem SKS tetapi namanya ECTS.

Perbedaan yang paling nyata terasa antara sistem pembelajaran di Belanda dan Indonesia adalah pada saat proses belajar self-study. Jika dibandingkan dengan pengalaman S1 nya saat di UNPAD, waktu belajar yang ia habiskan di perpustakaan tergolong sangat minim. Hal ini juga mungkin dipengaruhi oleh infrastruktur perpustakaan di Indonesia yang memang belum sebagus di Belanda. Di Belanda, semua perpustakaan sudah menggunakan sistem digital dan semua literatur bisa diakses secara online sehingga memudahkan mahasiswa untuk mengakses buku dan karya-karya ilmiah yang pernah dipublikasikan sebelumnya.

Tips meraih beasiswa

Menurut Affan hal yang paling utama untuk bisa mendapatkan beasiswa adalah mempersiapkan diri sedini mungkin dan jangan menjadi deadliners. Kurangnya persiapan akan berpengaruh pada bobot berkas administratif yang mana merupakan faktor utama penilaian dari para penyedia beasiswa.

Salah satu persyaratan pengajuan beasiswa adalah membuat motivation letter. Berdasarkan pengalamannya, motivation letter yang baik adalah motivation letter yang memuat well-connected description dari paragraf pertama hingga akhir. Disitu kita dituntut untuk menjelaskan apa latar belakang yang mendorong kamu untuk menekuni bidang yang akan kamu pelajari di S2 (termasuk apa korelasi antara pekerjaan kamu saat ini dengan bidang tersebut), alasan kamu memilih universitas tersebut dan bagaimana universitas tersebut dapat mendukung kamu untuk mendapatkan ilmu yang kamu inginkan, dan apa yang akan kamu lakukan dengan ilmu tersebut setelah kamu menyelesaikan program studi.

***Seluruh foto adalah dokumentasi pribadi Affan Giffari

Instagram: @affan.giffari


Klik di sini untuk detail lebih lanjut mengenai kuliah di Belanda.