Media
Language

Mengenal Prancis Bersama Nuraziz Handika, Dosen UI Peraih Dua Beasiswa ke Prancis

Last updated on 15 Sep 2019

IMG_5508.PNG

Oleh Erzawansyah


Bermimpi Melanjutkan Studi ke Eropa? Jangan lewatkan EHEF Indonesia 2018, pameran pendidikan tinggi Eropa terbesar di Indonesia yang paling dinanti-nanti. Segera daftarkan dirimu sebagai peserta dalam perhelatan akbar EHEF Indonesia 2018 secara GRATIS di sini.


Alih-alih merasa terpuruk, Nuraziz Handika lebih memilih tidak tenggelam meratapi kegagalannya.

Saat itu adalah semester pertama di tahun pertama Nuraziz menjalani kuliah di Prancis.

Ia shock dan merasa berada pada kondisi paling down selama empat bulan pertama menjalani masa studinya. Sampai seorang teman berkata kepadanya:

“Gagal itu tidak masalah, Ziz. Yang tidak boleh itu gagal berulang-ulang di hal yang sama. Itu berarti kita tidak memetik pelajaran di balik masalah tersebut.”

Mendengar nasihat itu, perlahan Nuraziz bangkit. Ia memilih untuk memaklumi kegagalan yang dialami, sambil berusaha untuk tidak mengulanginya lagi.

“Kita hanya manusia, tidak bisa dituntut untuk menjadi terbaik dalam segala hal,” kata Nuraziz.

Menurut Nuraziz, adakalanya manusia mengalami kegagalan. Namun, kegagalan tersebut bukan suatu kesalahan dan akhir dari segalanya, melainkan pemicu agar kita berusaha lebih keras mendapatkan yang lebih baik.


Untuk informasi lengkap mengenai kuliah di Prancis, klik di sini.


Sekilas tentang Nuraziz Handika

Nuraziz Handika saat ini merupakan seorang dosen di Departemen Teknik Sipil Universitas Indonesia. Ia mendalami profesi ini kembali di Mei 2017 setelah sebelumnya pernah menjalani 1 tahun dosen sebelum keberangkatan studi S3.

Saat menjadi mahasiswa, prestasinya cukup gemilang.

Hanya dalam rentang tujuh tahun (2005 - 2012), ia mampu meraih empat gelar pendidikan sekaligus.

Pria yang kini berusia 30 tahun itu, mengenyam pendidikan S1-nya di Universitas Indonesia (UI), jurusan Teknik Sipil, dimulai pada tahun 2005.

Tiga tahun selanjutnya, yakni pada tahun 2008, ia mengikuti program double degree di Ecole Centrale Nantes (ECN), salah satu sekolah tinggi teknik di Prancis, yang diselenggarakan oleh pihak kampus.

Nuraziz mendapatkan beasiswa dari Eiffel Scholarship dalam program kerja sama École Central de Nantes dan Fakultas Teknik Universitas Indonesia.

Setelah menyelesaikan pendidikan jenjang S-1-nya di UI dan ECN Prancis, Nuraziz melanjutkan studi ke jenjang S2 selama dua tahun (2010-2012). Skema kerjasama FTUI dan ECN memang mengharuskan 1 tahun tambahan lagi pada program S2 di UI setelah menyelesaikan 2 tahun program di Prancis.

Mengingat program S2 itu sendiri perlu dilakukan selama 2 tahun, Ia kembali mengikuti program dual degree. Kali ini, tahun pertama kuliah S2 dilaksanakan di UI, tahun keduanya ia laksanakan di National Taiwan University of Science and Technology, Taiwan.

Ya, dalam jangka waktu tujuh tahun, Nuraziz berhasil meraih empat gelar pendidikan sekaligus. Meski begitu, langkahnya tak hanya berhenti sampai situ saja.

Setahun setelah menyandang gelar master dari dua perguruan tinggi, pada 2013 Nuraziz kembali berangkat ke Prancis untuk meraih gelar doktoral. Kali ini, perguruan tinggi tujuannya adalah Institut National des Sciences Appliquées (INSA) de Toulouse, Prancis.

Ia mendapatkan kesempatan untuk belajar di Prancis melalui program beasiswa BPLN Dikti, saat ini di bawah naungan Kemenristekdikti.

Itu berarti, ia sudah dua kali meraih beasiswa ke Prancis untuk melanjutkan studi di sana.

Untuk daftar beasiswa Kuliah ke Prancis, klik di sini.


Alasan Memilih Prancis

Eropa adalah salah satu wilayah yang ingin Nuraziz kunjungi sejak kecil.

“Ketika TK, kalau ditanya tentang luar negeri, saya akan menjawab Eropa atau Asia Timur,” kata Nuraziz, menceritakan pengalamannya.

Ia mengaku, entah mengapa, tidak pernah berpikiran untuk berkunjung ke Amerika Serikat.

Hal ini berlanjut saat Nuraziz mendapatkan informasi mengenai program dual degree dari kampusnya. Prancis, adalah salah satu negara destinasi di program itu.

Tentunya kesempatan itu tak ingin ia sia-siakan. Berbekal prestasi di kampusnya, ia mencoba mengajukan diri ikut serta dalam program tersebut. “Jadi, memang awalnya karena Prancis merupakan satu-satunya kemungkinan untuk dikunjungi dari jurusan Teknik Sipil di UI,” urainya.

Kemudian, Nuraziz mencari informasi lebih lanjut tentang kuliah di Prancis dan kualitas perguruan tinggi di sana. Hasilnya, cukup memuaskan, sebab dari informasi yang ia dapat, Prancis memiliki kualitas pendidikan sains dan teknologi yang baik.

Selain itu, ia juga menemukan informasi bahwa Grandes Ecoles Group, kelompok perguruan tinggi yang menaungi ECN, merupakan salah satu kampus teknik bergengsi di dunia.

Di tambah lagi, Nuraziz menyadari bahwa selama ini banyak gagasan dan keilmuan yang berasal dari Prancis. Bahkan, kata Nuraziz, selama menjalani kuliah di Sipil FTUI di tahun ke-2 dan ke-3, ia mendapati beberapa metode yang digunakan, lahir di Prancis. Hal tersebut membuat tekadnya semakin bulat, untuk menjajal dunia pendidikan tinggi di sana.

Terlepas dari bagaimana kualitas pendidikan di Prancis, Nuraziz pun mengakui, bahwa nilai tambah negara-negara di benua Eropa, adalah aksesibilitas.

Akses ke negara-negara lain di Eropa sangat mudah. Apalagi, setiap negara, memiliki karakter dan kebudayaan masing-masing. Dengan begitu, kesempatan menambah pengalaman dan memperkaya wawasan mengenai masyarakat dunia, sangat terbuka lebar.

Motivasi Nuraziz untuk mengenyam pendidikan di Prancis pun dijawab dengan kabar baik tentang kelulusannya dalam program dual degree dari kampus UI.

Ia tinggal di sana selama dua tahun dan beberapa tahun berikutnya, saat ingin melanjutkan jenjang S3, Prancis menjadi negara tujuan utamanya lagi.

Menurut Nuraziz, banyak manfaat yang bisa didapat bila kita melanjutkan studi ke luar negeri. Jaringan dan pekerjaan, wawasan dan pengalaman, serta cara dan fondasi berpikir. Nah, untuk di Eropa, khususnya, kita bisa lebih mudah untuk melakukan traveling ke berbagai negara.

Banyak pelajaran yang dapat Nuraziz petik, selama menjalani studi di Prancis, baik semasa ia di ECN, maupun di INSA de Toulouse. Mulai dari sistem pendidikan, hingga kondisi sosial masyarakat di negara kelahiran Napoleon Bonaparte itu.

Sistem Pendidikan di Prancis

Satu hal yang paling berkesan bagi Nuraziz saat menjalani studi di Prancis adalah sistem pendidikannya.

Salah satunya adalah bagaimana sistem pendidikan di Prancis membuat kita tidak merasa terpuruk saat mengalami kegagalan.

Sistem pendidikan Asia, Indonesia khususnya, seolah menuntut kita untuk mendapatkan yang terbaik dalam segala hal. Lantas ketika kita tidak mendapatkan nilai baik, misal nilai 4 untuk ulangan matematika, orang tua bisa sangat marah dengan kita. Padahal, di Prancis, hal tersebut bukan sebuah masalah besar.

Ini pula yang menjadi alasan, mengapa pada tahun pertama kuliah di Prancis, Nuraziz hampir merasa terpuruk. Iya, karena waktu itu, Nuraziz mendapat nilai yang tidak sempurna dan menganggap itu adalah sebuah kegagalan.

Padahal di Prancis, kegagalan tidak dinilai sebagai sebuah kesalahan. Kegagalan, apalagi saat first try, adalah suatu hal yang manusiawi

Value tersebut, merupakan dampak positif dari sistem pendidikan yang diterapkan. Di negara beribukota Paris tersebut, nilai maksimal untuk sebuah ujian adalah 20. Namun, dari 350 siswa, paling banyak hanya 5-10 orang yang bisa mendapatkan nilai 17. Berbeda jauh dengan di Indonesia. Nilai maksimal untuk sebuah tugas di Indonesia adalah 100. Dan ketika ujian, pelajar yang bisa mendapatkan nilai 100, bisa mecapai 10% dari keseluruhan.

Berarti mutu soalnya bisa saja diturunkan, tanpa merasa sistem pendidikan mana yang lebih baik mana yang tidak. Padahal di Prancis yang bisa dapat nilai 20 itu cuma anak yang belajarnya super dan dia punya bakat terpendam,” tegas Nuraziz.

Persamaan hak dalam pendidikan, juga suatu yang patut ditiru dari Prancis

Pengalaman itu Nuraziz dapat ketika mengenyam pendidikan doktoral di INSA de Toulouse. Pada waktu itu, ia dikontrak selama dua semester sebagai dosen. Lalu, Nuraziz diundang untuk ikut mengajar di kelas oleh rekannya.

Disini ia terkejut, sekaligus kagum. Ada seorang mahasiswa yang memiliki gangguan pendengaran. Dosen yang menerangkan di depan kelas berbicara seperti wajarnya, menuliskan materi di papan tulis kapur. Di samping dosen tersebut, seorang penerjemah bahasa isyarat menginterpretasikan kuliah sang dosen untuk mahasiswa dengan kebutuhan khusus ini. “Dalam sistem pendidikan di Prancis, setiap warga negara yang memiliki kemampuan dan kemauan, memiliki hak untuk memperoleh pendidikan yang sama. Sehingga pemerintah harus memfasilitasi warganya,” katanya.

SIgn Laguage Interpreter during experimental class INSA.jpg

Sang penerjemah bahasa isyarat sedang menginterpretasikan untuk mahasiswa berkubutuhan khusus

Orientasi Pendidikan

Ada yang bilang, negara-negara berkembang seperti Indonesia, membutuhkan lebih banyak tenaga praktisi, sehingga pendidikan jenjang S1 di Indonesia lebih berorientasi pada pendidikan-pendidikan praktis.

Hal ini juga dialami Nuraziz ketika menjalankan kuliah selama tiga tahun di FT UI. Ia mengaku bahwa ilmu yang didapat di Indonesia, lebih aplikatif, namun begitu tetap berdasarkan pada teori.

Hal ini berbeda dengan orientasi pendidikan di Eropa. Pada jenjang S1, orientasi pendidikan di Eropa, Prancis khususnya, lebih berfokus dalam mengedukasi pemikiran logis kita, terutama untuk bidang sains dan teknologi. Untuk ilmu-ilmu yang lebih praktis (aplikatif), tidak sebanyak yang bisa didapat di Indonesia.

Tapi, pemikiran logis adalah sudut pandang utama. Kami mendapatkan gagasan utama tentang cara berpikir dengan dasar teori yang ada sehingga penurunan rumus menjadi hal yang tidak menakutkan lagi. Dan dari mana datangnya rumus tadi menjadi lebih jelas. Jadi, mahasiswa Indonesia di sana semacam mengalami pencucian otak, tapi dalam konteks yang baik,” jelas Nuraziz.

Sistem Pengajaran

Hal terakhir yang menarik, menurut Nuraziz, adalah sistem pengajarannya. Secara umum, sistem belajar-mengajar di Prancis mirip dengan Indonesia.

Dibandingkan dengan Amerika yang sudah banyak menerapkan self-study yang menuntut mahasiswa mencari tahu dan belajar sendiri dengan memperbanyak esai, Prancis berbeda jauh.

Nuraziz mengutarakan bahwa Prancis tidak mengenal metode semacam itu di saat itu. Di sana, dosen menjelaskan, mahasiswa mencatat.

Agak sedikit berbeda dengan kondisi di Indonesia, mahasiswa di sana tetap digiring untuk diajak berpikir, walaupun itu bisa memakan waktu yang cukup lama. Ketika bertanya, sebagian dosen tidak langsung memberikan jawaban, melainkan dosen tersebut akan mengajak mahasiswanya memutar otak sampai menemukan jawabannya.

Jadi, dosen tidak akan memberikan ikan, tapi memberikan kailnya. Ikan harus dicari oleh mahasiswanya sendiri,” Nuraziz melanjutkan, “walaupun begitu, ketika memang mahasiswa tidak bisa menjawabnya, dosen bersikap open untuk menjelaskan, asalkan buat janji terlebih dulu,” jelasnya.

Kehidupan Bermasyarakat

Nuraziz Handika juga punya cerita dalam kehidupannya sehari-hari selama menempuh pendidikan di Prancis.

Sebagaimana kehidupan mahasiswa Indonesia lain yang belajar di luar negeri, bahasa adalah salah satu yang paling utama dalam menjalani kehidupan sehari-hari mereka.

Ketika Nuraziz pertama kali pergi ke Prancis pada 2008 silam, persyaratan kemampuan dasar Bahasa Prancis belum seberat persyaratan sekarang ini, juga termasuk dalam memperoleh visa pelajar.

Akan tetapi, Nuraziz tetap harus menjalani semacam pelatihan selama dua bulan langsung di sana untuk mematangkan kemampuan Bahasa Prancisnya.

Dari program tersebut, kemampuan berbahasa Prancis Nuraziz meningkat, bahkan dari yang tidak bisa apa-apa, “dari level A0 sampai level A2 - B1,” urainya.

Meskipun begitu, usaha untuk melatih kemampuan berbahasa Prancis Nuraziz tidak berhenti sampai pada pelatihan tersebut. Selama tinggal di Prancis, ia juga berusaha untuk belajar dengan cara bercakap-cakap dengan warga di sana.

Hal itu tentu saja harus dilakukannya. Karena saat itu, Nuraziz merupakan satu-satunya warga Indonesia yang kuliah di ECN di program diplome Ingenieur di angkatannya.

Pria kelahiran 1988 itu mengatakan bahwa proses belajar bahasa Prancisnya memang tidak lebih cepat daripada orang lain. Enam bulan pertama, kata Nuraziz, ia sudah bisa mengerti, namun masih pasif. Untuk bertanya dan berbicara, masih terbata-bata. “Satu kalimat mikir, satu kalimat mikir,” katanya.

Kemampuan berbahasa Prancisnya baru bisa disebut lancar setelah satu tahun. Ia sudah bisa berbincang-bincang menggunakan bahasa Prancis, bahkan untuk membantu temannya dalam mengurus hal-hal yang sifatnya administratif, seperti klaim asuransi, sampai urusan perbankan.

Jujur, saya memang suka belajar bahasa, tetapi saya membutuhkan waktu lama dalam membiasakan diri,” jelas Nuraziz.

Menjunjung tinggi persamaan derajat, adalah hal lain yang bisa kita dapati saat hidup di Prancis.

Tidak hanya persamaan hak dalam dunia pendidikan, persamaan derajat juga merupakan hal yang membuat Nuraziz kagum pada negara Prancis.

Pada suatu ketika, tepatnya saat ia menjalankan program internship sebagai mahasiswa teknik di ECN. Saat itu, ia magang di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pembangunan (public work building). Di sebuah kesempatan, pihak kantor menyelenggarakan acara kumpul-kumpul.

Di sana Nuraziz mendapati pemandangan yang jarang ia lihat di Indonesia. Yaitu, ketika makan bersama, baik direktur, manajer, karyawan, trainee, teknisi, bahkan cleaning service, duduk dan makan di meja makan yang sama, makan makanan yang sama dan minum-minuman yang sama pula.

Mereka tidak mengenal derajat tinggi-rendah, bagi mereka semua manusia punya derajat yang sama. Hal ini menurutnya sangat berbeda di Indonesia, dimana banyak sesuatu yang dibedakan sesuai dengan derajat dan jabatannya. “Bahkan di mal, kita bisa melihat toilet untuk pelanggan dan karyawan, bukan? Jadi, itu adalah budaya yang berbeda,” ungkap Nuraziz.

Lalu, bagaimana tentang rasisme di Prancis?

Iya, orang Prancis rasis!

Akan tetapi, mereka rasis hanya jika mereka tidak tahu siapa kita.

Lain ladang, lain belalang. Dimana bumi berpijak, disitu langit dijunjung. Mereka akan rasis kalau kita tidak bisa menempatkan diri dengan baik. “Sama aja kayak kita lihat orang bule terus berkata ‘apaan sih bule pake baju kebuka-buka,’ gitu,” kata Nuraziz.

Ia mengakui, berteman dengan orang Prancis bukan sesuatu yang mudah dilakukan. Meski begitu, bukan mustahil kita bisa berteman akrab dengan mereka. Buktinya, Nuraziz bisa mendapatkan teman akrab dimana ia satu-satunya orang Indonesia, sedangkan lainnya merupakan warga Prancis.

Nuraziz sendiri sebenarnya mengaku terbantu dengan kondisi saat itu. Ia dan teman-temannya sama-sama merupakan mahasiswa baru yang juga sedang mencari teman. Sehingga, mereka bisa akrab lebih mudah. “Walaupun kadang sering mlongo sendiri waktu mereka lagi ngobrol,” ungkapnya sambil tertawa kecil.

Journee des Doctorants INSA Toulouse.jpg

Para mahasiswa program doktoral di Institut National des Sciences Appliquées (INSA) de Toulouse

Tips & Trik Meraih Beasiswa ala Nuraziz Handika

Banyak pengalaman yang bisa didapat ketika kita kuliah di luar negeri. Nuraziz Handika, sebagai satu dari sekian banyak warga Indonesia yang punya pengalaman tersebut, turut berbagi tips dan trik, agar kita dapat mencapai goal tersebut.

Lakukan Persiapan di Waktu yang Tepat

Paling tidak, setahun sebelum tahun ajaran baru dimulai. Tahun ajaran baru di Prancis, dimulai setiap bulan September. Oleh karena itu, apabila ingin mencari beasiswa untuk berangkat ke sana, lakukan sejak sekarang.

Cari informasi sebanyak-banyaknya, tentang program beasiswa dan perguruan tinggi yang dituju. Biasanya, syarat masing-masing beasiswa berbeda-beda. Untuk Eiffel Scholarship sendiri, Nuraziz mengatakan, dokumen-dokumen utama yang perlu dilengkapi adalah transkrip nilai, surat rekomendasi dari kampus yang bersangkutan (FT UI dan ECN), sertai esai mengenai rencana masa depannya.

Dengan melakukan persiapan dari jauh-jauh hari, maka kita juga punya kesempatan untuk memperdalam kemampuan berbahasa asing, terutama untuk negara yang tak berbahasa Inggris. Memang banyak negara yang masyarakatnya menguasai bahasa Inggris. Akan tetapi, mereka akan lebih terbuka apabila kita berbicara menggunakan bahasa mereka, terutama negara-negara seperti Prancis, Italia, Spanyol dan Portugal.

Meningkatkan Skor Ujian Bahasa Inggris (IELTS/TOEFL)

Meskipun sudah menguasai bahasa lokal di negara tujuan, bukan berarti kita boleh melupakan kemampuan berbahasa Inggris. Sebab, kemampuan berbahasa Inggris ini juga sangat penting, bagi kita yang berencana melanjutkan kuliah di luar negeri.

Kemampuan berbahasa Inggris saat ini banyak diukur menggunakan bermacam-macam tes, yang kerap dijadikan syarat untuk kita mengajukan beasiswa, apapun negara tujuannya. Nuraziz sendiri, punya kiat untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris kita. “pelajari dan coba pahami aksen yang mereka gunakan,” tegasnya.

Memang butuh waktu, karena latihannya tidak bisa dibilang mudah, meskipun tak bisa juga dibilang terlalu sulit. Meski begitu, ada cara yang paling mudah. Menonton film. Langkah Pertama, gunakan subtitle saat menonton film. Kedua, gunakan subtitle tersebut untuk menangkap apa yang dibicarakan. Ketiga, coba kembali menonton tanpa menggunakan subtitle. Boleh menggunakan earphone untuk permulaan.

Ketika sudah merasa cukup bisa memahami, terakhir, jangan gunakan earphone, tapi tetap tanpa menggunakan subtitle. Memahami pembicaraan mereka, disertai dengan kebisingan, cukup berguna untuk melatih kemampuan kita menangkap apa yang mereka bicarakan.


Baca juga: Tips Mendapatkan Nilai Bagus Dalam Ujian TOEFL/IELTS


Kiat Menulis Motivation Letter

Sebagaimana menulis motivation letter untuk perguruan tinggi pada umumya, menulis motivation letter sebagai syarat pada pengajuan beasiswa di luar negeri, juga merupakan hal penting untuk diperhatikan. Karena menurut Nuraziz, motivation letter adalah salah satu kunci keberhasilan saat pengajuan beasiswa.

Tingkatkan kemampuan menulis! Menulis itu, tentang bagaimana menyampaikan pesan melalui tulisan. Dengan meningkatkan kemampuan menulis, pesan dalam motivation letter kita bisa sampai kepada pihak penyelenggara beasiswa.

Penggunaan kata-kata yang “bagus” atau “akademis” barangkali kerap mendapat perhatian dari pihak penyelenggara, Meski begitu, kadang-kadang hal tersebut juga tidak terlalu menekankannya. Konten, komitmen dan dengan apa yang kita pilih, barangkali lebih diutamakan. “Bisa jadi saya salah, tetapi berdasarkan pengalaman saya, ini (konten, red) adalah salah satu hal yang utama,” jelas Nuraziz.


Dapatkan Panduan Lengkap Menulis Motivation Letter untuk Melanjutkan Studi Ke Eropa di sini!


Menghadapi Wawancara

Tenang dan percaya diri. Adalah dua hal yang sangat diutamakan saat menghadapi wawancara untuk mendapatkan beasiswa ke luar negeri. Setidaknya, dengan tenang dan percaya diri kita dapat menjawab setiap pertanyaan, sesuai dengan apa yang dipikirkan.

Meski begitu, selain berbekal mental, kita juga perlu membekali diri dengan wawasan dan pengetahuan. Pahami topiknya dan siapkan segala pertanyaan yang mungkin akan diajukan kepada kita saat proses wawancara.

Satu hal lagi, libatkan keluarga sebagai motivasi dalam mengajukan beasiswa. Atau, jelaskan bahwa pihak keluarga mendukung penuh keputusan kita untuk mengambil beasiswa tersebut. “Mereka (penyelenggara), kadang-kadang melihat hal ini sebagai fondasi bagi kita untuk ‘bertahan hidup’ di negara tujuan,” jelas Nuraziz.

Sabar dan Jangan Baper!

Dari berbagai pesan yang disampaikan Nuraziz, sabar dan jangan baper, merupakan hal yang paling dasar untuk kita miliki saat mengajukan beasiswa.

Sabar, karena berdasarkan pengalamannya, mungkin saja ada seorang temanmu yang mendapat pemberitahuan lebih cepat. Tapi percayalah, ada kemungkinan bahwa penyelenggara memang sengaja menunda pemberitahuan kepadamu, karena mereka save the last for the best!

Lalu, maksudnya jangan baper?

Ketika ada peluang, beri waktu untuk berpikir dan menimbang, lalu ambil!

Kesempatan tidak datang dua kali. Urusan berhasil atau gagal, itu belakangan. Yang paling penting sih nothing to lose, tapi tetap punya target dan usaha semaksimal mungkin.

Kalau kemudian tidak diterima?Yaudah, ya jangan baper gitu. Kalau baper, malah bisa jadi demotivating buat diri kitanya,” pungkas Nuraziz sambil berpesan, agar kita tidak mudah menyerah untuk meraih beasiswa ke Eropa. Tagline Jangan Baper ini sebenarnya diperoleh Nuraziz dari teman-teman circle-nya yang selalu ada saat sesi curhat.

After Oral Defence with Jurys and Profs.JPG

Nuraziz setelah sidang disertasi bersama para panelis dan profesor

Ingin kuliah di Prancis seperti Nuraziz? Yuk persiapkan dirimu dengan datang ke EHEF Indonesia 2018 di mana akan ada perwakilan dari berbagai universitas Prancis yang siap menjawab pertanyaanmu. Daftarkan dirimu di sini!