Media
Language

Berbagi Pengalaman dan Tips Meraih Beasiswa Erasmus ke Lituania bersama Henrison Sitorus

Last updated on 25 Apr 2019

1.jpeg

Oleh Erzawansyah

Jika ada pepatah yang bilang pergilah ke berbagai lokasi sampai menemukan tempat yang paling membuat kamu nyaman, maka Henrison Sitorus telah menemukannya kurang lebih lima tahun yang lalu.

Tepatnya pada tahun 2013, menjelang masa studi S1 di jurusan Akuntansi Universitas Gajah Mada (UGM) berakhir.

Pria yang pada 3 Maret 2019 ini genap berusia 27 tahun itu berhasil meraih beasiswa program Erasmus Mundus Exchange PANACEA untuk merasakan kuliah di Lituania, negara Baltik terbesar di Eropa.

Henrison menjalani perkuliahan selama enam bulan di Vilnius Gediminas Technical University (VGTU) jurusan Business Administration. Selama itu pula, ia mendapatkan pengalaman-pengalaman berkesan yang hingga saat ini masih teringat jelas dalam ingatannya. Baginya, Lituania beserta orang-orangnya, merupakan salah satu tempat yang ia rindu-rindukan.

Tak sedikit yang telah dialami Henrison selama enam bulan menjalani masa studi di Lituania. Terang saja, karena tak mungkin ia bisa mengatakan benar-benar merindukan kehidupan di sana kalau pengalaman yang ia dapat selama masa pertukaran pelajar berlangsung itu biasa-biasa saja.


Temukan daftar lengkap beasiswa kuliah di Eropa di sini


4.jpeg

Henrison Sitorus dan Kisahnya Hingga Sampai ke Lituania

Henrison memang senang mengeksplorasi hal-hal baru. Minat untuk memenuhi rasa penasarannya itu memang sudah tertanam sejak ia masih kecil.

Bahkan, ketika sedang berpergian bersama keluarga, tak jarang dirinya mlipir ke tempat-tempat yang menggugah rasa ingin tahunya. “Kalau lagi jalan-jalan sama keluarga, suka pergi-pergi sendiri karena penasaran. Sudah seperti anak hilang saja,” kata Henrison, seraya tertawa kecil mengingat masa lalunya tersebut.

Henrison menduga, keinginannya untuk selalu menjelajahi tempat-tempat baru tidak terlepas dari pengalaman masa lalunya. Sejak lahir dulu, dia bersama keluarganya memang tidak pernah berdomisili lama di satu kota saja.

Mereka selalu berpindah-pindah. Mulai dari Kepulauan Riau, tempat kelahirannya, kemudian Pekanbaru, hingga akhirnya dia dan keluarga menetap di Tangerang. Hal itu secara tak sadar terbawa hingga ia beranjak dewasa, tepatnya ketika waktu untuk melanjutkan studi ke jenjang S1 tiba.

Di kala banyak teman-teman sekolahnya di Tangerang lebih memilih kuliah di Jakarta karena dekat dengan tempat tinggal mereka, Henrison justru memilih UGM yang berada di Yogyakarta. Jauh dari rumah, jauh pula dari orang tuanya.

Keinginan untuk mengeksplorasi tempat-tempat baru kembali muncul, tatkala pada suatu ketika dirinya mengikuti salah satu seminar yang diselenggarakan oleh para alumni peraih beasiswa Erasmus.

Henrison yang mulanya tak mengetahui apa-apa mengenai beasiswa Erasmus, mendapatkan wawasan baru mengenai kesempatan untuk merasakan pendidikan tinggi di Eropa. Ketika sesi seminar berakhir, dia segera mencari informasi mengenai kesempatan tersebut.

Ada dua program beasiswa Erasmus yang sesuai dengan kebutuhan dan jurusannya, yaitu program GATE dan PANACEA. Setelah informasi untuk melakukan pendaftaran di kedua program itu terpenuhi, Henrison segera melakukan pendaftaran.

Sayangnya, ia tidak lolos di program beasiswa GATE. Namun, tak lama kemudian kabar baik menghampirinya. Empat bulan setelah melakukan pendaftaran, tepatnya pada Mei 2013, pria berdarah Batak ini mendapat menerima sebuah pesan masuk di email-nya yang menyebutkan kalau ia lolos pada program PANACEA.

Itulah titik awal perjalanan Henrison menjelajahi Lituania).

Beruntungnya, saat itu ia tidak sendirian, ia berhasil lolos bersama dengan empat temannya yang sama-sama dari UGM, hanya saja berbeda fakultas.

Setelah melalui berbagai persiapan administratif yang cukup menguras tenaga, ia bersama keempat temannya pun berhasil tiba di Lituania pertengahan 2013 silam.

Adapun alasan mengapa Lituania menjadi negara destinasi Henrison, sebenarnya cukup sederhana.

Henrison cuma ingin pergi ke tempat yang jarang dipilih oleh orang-orang.

Saat itu ada dua pilihan, yakni Lituania dan Finlandia. Lantaran ibukota Lituania, yakni Vilnius, lebih mudah aksesnya ke tempat-tempat untuk berlibur, maka ia memilih Lituania. “Karena dari kecil saya memang senang jalan-jalan, sih,” ungkapnya.

2.jpg

Berbagai Hal tentang Lituania dari Kacamata Henrison

Nama Lituania memang sangat jarang disebut sebagai negara destinasi pelajar Indonesia untuk mengenyam pendidikan tinggi.

Masyarakat di negara berpenduduk sekitar 3 juta jiwa itu kerap dianggap dingin dan tak ramah lantaran merupakan negara pecahan Uni Soviet. Selain itu, Karena bukan negara yang tergolong besar dibandingkan negara-negara lain di Eropa, kuliah di Lituania juga sering dianggap mudah membuat kita merasa homesick dan mengalami culture shock.

Padahal tidak demikian. Pengalaman Henrison justru bertolak belakang dengan segala anggapan-anggapan tentang negara berpenduduk sekitar 3 juta jiwa tersebut.

Nyatanya, orang-orang Lituania justru sangat ramah dan hangat terhadap orang asing.

Terlebih pada pelajar dari negara-negara Asia.

Di Lituania, pelajar-pelajar dari dari Asia dikenal lebih mudah bergaul. Menurut mereka, pelajar-pelajar dari Asia lebih terbuka dan mudah untuk berteman dengan orang-orang baru. Hal ini didasari oleh pengalaman mereka bertemu dengan orang-orang Asia sebelumnya.

Misalnya dalam sebuah kelompok yang berisi pelajar dari lintas negara, nah biasanya orang-orang Asia yang akan lebih dulu memperkenalkan diri,” kata Henrison. Kebiasaan ini membuat mereka senang bergaul dengan pelajar-pelajar dari Asia, termasuk Indonesia.

Keramahan dan kehangatan juga tidak hanya ditunjukkan oleh anak muda di Lituania saja. Orang tua di Lituania juga dikenal ramah dan excited dengan pelajar-pelajar dari luar negaranya. Pernah suatu ketika, dia bertemu dengan orang tua di sana. Saat itu suhu sedang rendah dan Henrison memakan baju yang agak tipis.

Tanpa segan-segan, orang Lituania yang ia temui itu bertanya menggunakan gerakan tangan kepadanya, yang kurang lebih maksudnya adalah bertanya, “apakah kamu tidak kedinginan memakai baju tipis di suhu yang dingin ini?”.

Menurut Henrison, ia sangat senang bisa merasakan keramahan-keramahan orang-orang disana.

Bahkan ketika aku bertemu dengan international student lainnya, tetap orang Lituania punya daya tarik sendiri,” tuturnya, menjelaskan bagaimana dirinya benar-benar seperti sedang berada di negara sendiri.

Kemampuan berbahasa Inggris anak-anak mudanya sangat baik.

Sehingga, kita tidak perlu khawatir, meskipun kita tak bisa menggunakan bahasa Lituania yang notabene, merupakan bahasa resmi di negara tersebut.

Henrison mengatakan, rata-rata anak muda di sana sangat bagus dalam berbahasa Inggris. Hal ini mungkin karena keinginan mereka agar negaranya terekspos secara internasional sangat tinggi.

Hampir setiap anak-anak muda yang ia temui di Lituania, cakap berbahasa Inggris.

Kendati begitu, hal ini hampir tidak berlaku bagi orang tua di sana. Kebanyakan mereka tidak bisa berbahasa Inggris. Meski demikian, keinginan para orang tua di Lituania untuk berkomunikasi dengan orang asing masih tetap tinggi. Biasanya, dilakukan menggunakan bahasa isyarat atau gerakan tangan seadanya. “Justru itu yang membuat seru dan lucu,” terangnya.

Alasan-alasan tersebut, membuat Henrison merasa tinggal di Lituania, sudah seperti tinggal di negara sendiri.

Jadi, kamu benar-benar tidak perlu khawatir mengalami culture shock.

Justru, keramahan orang-orang di Lituania lah yang bisa membuat kamu terkejut.

Bagaimana tidak?

Keramahan dan sikap mereka terhadap orang-orang asing benar-benar membantah persepsi awal Henrison terhadap orang-orang di Lituania.

Secara, Lituania merupakan salah satu negara pecahan Uni Soviet. Kebanyakan penduduk juga mayoritas berasal dari Rusia, negara yang penduduknya dikenal dingin dan berkarakter keras dan tegas. Maka hal yang wajar bila sebelum tiba di sana, Henrison menilai bahwa orang-orang Lituania juga begitu.

Saya merasa sangat surprised. Setibanya di sana, mereka ternyata sangat ramah terhadap kami. Berada di sana homey banget,” ungkap Henrison. “Bahkan, kalau ada pepatah yang bilang agar kita travelling ke berbagai tempat sampai mendapatkan tempat yang paling nyaman, bagi saya Lituania sudah menjadi salah satunya,” tuturnya.

Eits, ada satu hal lagi lho yang sebenarnya membuat Henrison merasa bahwa tinggal di Lituania itu seperti sedang tinggal di negara sendiri.

Dan alasan ini, adalah alasan yang tidak terduga buat kamu.

Ternyata, orang Lituania juga makan nasi

Iya, ini adalah alasan Henrison yang menambah perasaan homey ketika tinggal di Lituania.

Di negara tersebut, sangat mudah menemukan nasi, karena orang-orang di Lituania juga sering makan nasi, meskipun nasi bukan merupakan makanan utama mereka. Hanya saja, cara penyajiannya agak berbeda dengan di Indonesia.

Kalau di sini kita lebih sering menanak nasi menggunakan dandang atau rice cooker, di sana nasinya disajikan secara kemasan. Jadi, kita tinggal membeli beras kemasan di toko-toko terdekat. Beras itu dikemas menggunakan plastik tahan panas. Untuk memasaknya, kita tinggal melubangi plastik tersebut, kemudian merebusnya ke dalam panci berisi air mendidih. Tunggu sampai mengembang, dan tada, kita bisa menikmati nasi yang sehari-hari kita makan di Indonesia.

Biaya Akomodasi Murah!

Meski merupakan salah satu negara Eropa, namun biaya hidup di Lituania terbilang sangat murah.

Bahkan, berdasarkan Expatistan cost of living index, Vilnius merupakan salah satu ibukota dari negara Eropa yang memiliki biaya hidup tergolong murah.

Ia mencontohkan untuk biaya akomodasi. Saat pertama kali tiba di Lituania, ia bersama teman-temannya tidak kedapatan tempat untuk tinggal di student dorm. Sebagai gantinya, mereka harus tinggal di hotel yang direkomendasikan oleh pihak universitas.

Letak hotel dari kampusnya yang berada di pinggiran kota terbilang cukup jauh. Akan tetapi, hotel tersebut justru berada di pusat kota tersebut, yang notabene merupakan pusat bisnis di sana. Dengan lokasi yang strategis tersebut, biaya yang harus dikeluarkan untuk tinggal di hotel hanya 100 euro untuk sebulan.

Biayanya sangat murah. Cuma 200 euro per bulan. Kami tinggal di sana selama tiga bulan. Tiga bulan selanjutnya kami tinggal di dorm, biayanya sekitar 100 euro per bulan,” tangkasnya.

3.jpeg

Berbagi Tips Mendapatkan Beasiswa ala Henrison

Apa yang didapatkan oleh Henrison setelah merasakan studi di Lituania baginya sangat berarti. Ia tidak hanya mendapatkan pengalaman dan kenangan yang menyenangkan.

Pengalaman mendapatkan beasiswa ke Lituania juga menunjang perjalanan karirnya saat ini.

Masa studi Henrison boleh dibilang lebih lama dibandingkan masa studi S1 pada umumnya, yakni empat tahun. Masa studinya S1-nya berlangsung selama lima tahun. Alasannya, tentu karena menjelang masa studinya berakhir, ia memilih untuk menerima beasiswa untuk merasakan kuliah di Lituania.

Akan tetapi, hal itu justru berbuah manis bagi perjalanan karirnya. Ketika tinggal menunggu wisuda, ia telah menerima panggilan kerja. Waktu itu ia mengandalkan pengalaman Henrison melakukan pertukaran pelajar ke Lituania.

Perjalanan karir Henrison yang turut ditunjang oleh beasiswa Erasmus yang ia raih pada 2013 silam tentu patut kita jadikan motivasi agar lebih giat untuk berusaha mendapatkan beasiswa, bukan?

Terus, bagaimana caranya?

Henrison berbagi tips agar kita bisa lebih dekat dengan mimpi kita, mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi ke Eropa.

1. Sering-Sering Ikut Seminar dan Events Mengenai Beasiswa ke Luar Negeri

Sebagaimana kisah Henrison di atas, sebelumnya ia tidak tahu apa-apa mengenai beasiswa Erasmus.

Akan tetapi, setelah mengikuti seminar yang diselenggarakan oleh para alumni Erasmus, ia jadi ikut termotivasi dan bergegas mencari informasi sebanyak-banyaknya melalui internet.

Nah, kalau kamu saat ini sudah sering mencari informasi melalui internet, maka sudah waktunya kamu ikut serta ke seminar-seminar atau event-event yang mengupas tuntas mengenai kesempatan kita untuk merasakan kuliah di luar negeri.

Pengalaman yang kamu dapat dijamin bakal jauh berbeda dari sekadar mencari informasi di internet saja. Penyampaian yang berapi-api oleh para alumni misalnya, bakal membuat kamu lebih termotivasi untuk menyiapkan diri untuk meraih beasiswa ke luar negeri.

Selain seminar, mengikuti pameran-pameran pendidikan tinggi juga bisa menjadi salah satu solusi bagi kamu yang ingin lebih dekat dengan cita-cita meraih beasiswa ke luar negeri. Misalnya ikut serta dalam agenda tahunan yang diselenggarakan oleh EHEF (Europe Higher Education Fair) atau agenda-agenda lain, baik offline maupun online, yang informasinya bisa kamu dapat melalui ehef.id.

Henrison sendiri yang sudah beberapa kali turut serta dalam agenda EHEF di Jakarta dan Yogyakarta sebagai pemberi informasi di booth Erasmus sendiri mengakui, bahwa dengan datang ke EHEF, wawasanmu mengenai kesempatan kuliah di luar negeri, khususnya Eropa, sangat terbuka lebar.

2. Jangan Malu-Malu Menjalin Hubungan dengan Alumni

Salah satu alasan mengapa Henrison berhasil meraih beasiswa untuk pertukaran pelajar ke Lituania adalah bantuan dari seorang alumni Erasmus.

Ketika ia mengikuti seminar Erasmus di Yogyakarta, Henrison terinspirasi oleh salah satu alumni yang ketika meraih beasiswa dulu, memiliki kemampuan berbahasa inggris biasa saja.

Oleh karena itu, setelah sesi seminar berakhir, Henrison tanpa segan-segan langsung menemui si alumni bersangkutan dan meminta kontaknya. Nah, setelah Henrison membulatkan tekad untuk mengajukan beasiswa Erasmus, alumni tersebutlah yang menjadi ‘pemandu bagi Henrison untuk mempersiapkan diri dalam melakukan pengajuan beasiswa.

3. Biasakan Diri dengan Bahasa Inggris

Kemampuan berbahasa Inggris adalah salah satu kriteria yang perlu kamu asah agar dapat membantu kamu meraih beasiswa ke luar negeri.

Walaupun tidak semua negara menuntut kemampuan berbahasa Inggris yang baik, namun tetap saja dengan menguasainya, kamu bisa lebih mudah untuk mendapatkan beasiswa tersebut.

Teknik yang bisa kamu lakukan untuk mengasah kemampuan itu sangat beragam dan bergantung pada karakter individu masing-masing orang. Walau begitu, Henrison percaya, bahwa kunci untuk menguasainya sebenarnya cuma satu, yakni membiasakan diri dengan Bahasa Inggris sebagai bahasa sehari-hari.

Adapun tips dari Henrison sendiri cukup unik, yaitu mendengarkan podcast. Carilah podcast berbahasa Inggris dengan tema yang paling menarik buat kamu. Hal itu akan membantu kamu membiasakan diri dengan Bahasa Inggris. “Karena kalau kamu mendengarkan podcast dengan tema yang kamu tidak suka, akan sulit juga kan,” jelasnya.

4. Asah Kemampuanmu Menulis Motivation Letter

Dari sebagian besar prosedur yang akan kamu lalui ketika mengajukan beasiswa, motivation letter adalah syarat yang memiliki peran paling besar di antara syarat lainnya.

Kamu membutuhkan motivation letter yang sangat baik agar bisa menjadi kandidat yang diperhitungkan.

Nah, untuk menulis motivation letter, Henrison sendiri memiliki beberapa strategi. Yang pertama, tentunya dengan mencari banyak informasi tentang bagaimana menulis motivation letter yang baik dan benar.

Selanjutnya, adalah membaca banyak contoh motivation letter, agar kamu bisa mempelajari bagaimana menulis dengan bahasa yang tidak terlalu baku, namun juga tidak kelewat santai.

Terakhir, buat isi dari motivation letter itu saling berkorelasi alias komprehensif. Motivation letter itu tidak hanya tentang bagaimana kamu menuangkan apa yang ada di pikiranmu. Tapi, juga bagaimana minatmu itu sesuai dengan kebutuhan pihak universitas.

Oleh karena itu, menurut Henrison, kamu perlu menghubungkan mengenai berbagai hal tentang jurusan yang kamu tuju, dengan apa yang sudah kamu lakukan atau apa yang kamu yakini akan kamu lakukan di masa depan.

Make it seems real. Misal kamu sudah bergelut di pengembangan laser selama 10 tahun dan tertarik untuk belajar tentang nuklir. Tapi di motivation letter kamu gak mention ke depannya kamu bakal interest ke bidang nuklir, ya tidak masuk akal bukan?” tegas Henrison.

5. Jangan Menyerah

Sebelum meraih beasiswa Erasmus untuk program PANACEA, Henrison pernah gagal di program Erasmus GATE. Jauh sebelum itu, ia juga pernah gagal mendapatkan beasiswa pertukaran pelajar ke negara lain. Meski begitu, kegagalan tersebut hanya ia anggap sebagai trial and error semata.

Karena nyatanya, ada awardee yang perjuangannya lebih keras lagi.

Ia menceritakan tentang seseorang awardee yang berusaha mengajukan beasiswa selama 10 tahun berturut-turut. Bahkan, ketika ia sudah menikah, ia terus mengajukan beasiswa tersebut. Dan keberhasilan baru menyambutnya, ketika ia melakukan pengajuan di tahun ke sebelas.

Akhirnya ia bawa keluarganya ke Eropa. Itu cerita menyentuh sekali dan dia menceritakannya itu, matanya sambil berkaca-kaca. Makanya, jangan mudah menyerah, apalagi baru pertama kali gagal. Karena seperti orang-orang bilang, kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda,” imbau Henrison.

Yuk, Daftar Beasiswa ke Eropa

Terkadang kita harus mengorbankan sesuatu, untuk mendapatkan sesuatu yang lebih besar.


Untuk info lengkap kuliah di Lithuania, klik di sini