Media

Language

Mengantisipasi ‘Culture Shock’

Last updated on 09 Aug 2017

Penulis: Winnie Amalia

cultureshock.jpg

Culture shock menjadi hal yang biasa ditemui oleh mereka yang tinggal dalam waktu yang cukup lama di tempat baru, mahasiswa misalnya. Hal ini lumrah terjadi ketika seseorang baru pertama kali menginjakkan kaki di tempat baru yang asing. Tanpa sadar budaya dan kebiasaan yang melekat pada diri seseorang berasal dari negara sendiri. Oleh karena itu, ketika memasuki lingkungan baru, kita menyadari bahwa beberapa hal adalah berbeda dan kita harus belajar menyesuaikan diri. Misalnya saja, keadaan lingkungan, seperti kampus dan kelas yang tidak sesuai harapan dapat menjadi salah satu faktor penyebab timbulnya gejala culture shock.

Sebelum mengantisipasi, yuk kita mengenali dulu bentuk culture shock sehingga kita dapat mengenalinya:

  1. The honeymoon phase

Tahapan ini adalah tahapan yang hampir selalu terjadi pada saat pertama kali baru sampai di lokasi. Awalnya kita akan merasa bahagia setibanya di negara yang baru, apalagi yang belum pernah dikunjungi sebelumnya. Seperti orang yang sedang honeymoon, semuanya serba indah dan menyenangkan.

  1. The crisis or negotiation phase

Fase ini adalah fase dimana kita akan mulai merasa tidak nyaman dengan lingkungan sekitar. Pelan-pelan kita mulai merasa kangen dan tidak cocok, misalnya makanannya, logat yang susah dimengerti, ataupun bahasanya yang membuat kita merasa terasing dan kesepian. Namun, kita akan segera melaluinya dan menikmati segala sesuatunya kemudian jika mampu menyesuaikan diri dengan baik. Biasanya bagi pelajar, pengalaman yang dirasakan pada fase ini adalah kecemasan karena perbedaan budaya. Disini kita mulai mengalami yang sering disebut denganhomesick.

  1. The adjustment phase

Disini kita sudah mulai bisa berinteraksi dengan baik dengan lingkungan di negara baru. Fase ini biasanya dimulai setelah 5-6 bulan. Semua akan mulai terasa lebih “normal” karena mulai bisa menyesuaikan diri dengan budaya lokal. Bahkan setelah memasuki tahap ini kita merasa seperti warga lokal karena lebih bisa menyatu dengan lingkungan, tidak lagi merasa berbeda dengan orang-orang di sekitar.

  1. Bi-cultural atau mastery phase

Pada tahapan ini kita telah merasa sangat nyaman dengan kehidupan. Hal ini sangat bagus karena berarti kita telah mampu beradaptasi dengan lingkungan yang benar-benar baru. Kita berhasil melewati suatu seleksi alam kecil. Namun, alangkah baiknya jika adaptasi kita tidak melupakan kebudayaan tanah air kita, sehingga tetap membawa ciri khas budaya sendiri dengan bangga. Tentunya harus ada keseimbangan antara memahami dan menerima kebudayaan lain tanpa meninggalkan identitas kita sebagai bangsa Indonesia.

Lalu bagaimana cara mengantisipasi culture shock? Karena mau tidak mau, sadar atau tidak sadar kita pasti melewati fase ini, walaupun bentuk dan responnya akan berbeda tiap individu.

  • Mencari tau segala informasi mengenai negara tujuan kuliah. Tambah wawasan kamu dengan banyak mencari tau di internet, bertanya pada teman/kenalan yang pernah belajar di negara yang sama dengan kita, banyak membaca buku-buku panduan mengenai negara tujuan, dan jangan menaruh harapan besar. Ingat hidupmu bukan drama atau sinetron, jadi mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan terburuk dapat lebih mempersiapkan diri terhadap banyaknya kemungkinan ketidakpastian hari esok.

  • Penting untuk mempelajar kebiasaan sehari-hari penduduk di negara tujuan kita. Karena kebiasaan kita belum tentu sama. Misalnya jam karet di Indonesia, belum tentu orang disana terbuka dengan keterlambatan satu menit saja. Nilai budaya yang berbeda juga membentuk selera humor yang berbeda. Padahal humor dapat membuat hubungan lebih dekat, tapi kalau malah jadi tersinggung kan gawat.

  • Terus update berita lokal, berita internasional dan berita nasional ya. Siapa tau dapat menjadi bahan pembicaraan yang menarik untuk memulai pembicaraan. Pelajar internasional biasanya tertarik untuk saling bertukar cerita mengenai negara masing-masing.

  • Aktif di kampus ini benar-benar ampuh untuk bisa bersosialisasi dan beradaptasi dengan lingkungan baru. Apalagi jika, kegiatan di kampus itu meupakan hobi, jadi sekalian untuk mengisi waktu luang yang menyenangkan.

  • Kenali kehidupan setempat dan ketahui tempat-tempat penting seperti kantor pos, toko, dokter, dan kantor pelayanan mahasiswa internasional. Jika bingung dengan bahasa, jangan malu untuk bertanya.

Picture credit: https://www.studentuniverse.com/blog/world-travel/top-tips-for-handling-culture-shock