Media
Language

RECAP: IG LIVE INTERVIEW "Becoming a Healthcare Professional: The Netherlands”"

Last updated on 18 Nov 2018

EHEF_LiveIG_TheNetherlands_InstaFeed_1080x1080pxl.jpg


Bermimpi Melanjutkan Studi ke Eropa? Jangan lewatkan EHEF Indonesia 2018, pameran pendidikan tinggi Eropa terbesar di Indonesia yang paling dinanti-nanti. Segera daftarkan dirimu sebagai peserta dalam perhelatan akbar EHEF Indonesia 2018 secara GRATIS di sini.


Oleh Mia Angeline

Hidup dengan pilihan rasional adalah nilai yang membawa Joko Mulyanto untuk studi S3 di Belanda.

Sama seperti orang-orang lain, Joko selalu dihadapi pada pilihan-pilihan selama hidupnya.

Namun setelah menentukan pilihan, juga diperlukan perjuangan untuk mempertahankan pilihan tersebut.

Yuk kita simak recap dari kisah Joko Mulyanto yang telah diwawancari secara LIVE oleh ehef.id pada tanggal 27 Oktober lalu di Instagram.

Yuk Kenalan dengan Joko Mulyanto

Joko lulus S1 dari Fakultas Kedokteran dari Universitas Diponegoro (UNDIP) pada tahun 2003. Namun ternyata Jurusan Kedokteran ini bukanlah keinginan Joko dari awal. Sewaktu SMA ternyata Joko ingin masuk ke Jurusan Teknik Informatika di ITB. Tetapi karena latar belakang ekonomi membuat Joko sadar kalau dirinya harus kuliah di universitas negeri di kota asalnya, Semarang, untuk meringankan biaya dari orang tuanya.

Melihat kenyataan ini, Joko akhirnya mempelajari jurusan yang tersedia di UNDIP, dan memang yang terbaik adalah Kedokteran. Ditambah dalam keluarganya, belum ada yang berhasil menjadi dokter. Kedua hal ini membuat Joko mantap memilih Jurusan Kedokteran di Universitas Diponegoro. Semasa kuliah, Joko aktif terlibat dalam kegiatan dan himpunan mahasiswa yang membuat Joko sadar kalau passion-nya adalah menjadi pendidik di bidang akademis.

Setelah menyadari passion dirinya, Joko melamar untuk menjadi dosen di Fakultas Kedokteran yang baru didirikan di Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED) di Purwokerto.

Kenapa melamar di UNSOED?

Sebenarnya keinginan Joko adalah kembali ke almamater di UNDIP, tetapi saat itu belum ada pembukaan untuk menjadi dosen. Ternyata UNSOED lah yang membuka pintu untuk Joko, dan karirnya sebagai dosen dimulai sejak Januari 2004.

Berprofesi sebagai dosen berarti Joko harus menempuh pendidikan S2 hingga S3. Joko lalu menerima tawaran beasiswa dari kampus tempatnya bekerja untuk kuliah S2 di Taiwan, tepatnya di Institute of Healthcare di Asia University, dan mendapatkan gelar MSc dalam bidang Healthcare Administration pada tahun 2006.

Pindah dari kedokteran klinis ke bidang public health juga merupakan pilihan yang harus dipikirkan dengan matang oleh Joko. Terutama karena sebagai dosen, hal ini akan berpengaruh pada mata kuliah dan penelitian yang harus dilakukan.

Saat ini Joko adalah sedang kuliah S3 sejak Agustus 2016 di Department of Public Health, University of Amsterdam, di Belanda.

Riset yang sedang dilakukan mengenai akses pelayanan kesehatan di Indonesia. Oya, untuk kuliah S3 ini, Joko mendapatkan beasiswa dari LPDP lho. Bahkan saat ini Joko adalah ‘lurah’ LPDP untuk Amsterdam.

Untuk kalian yang belum tahu, LPDP biasanya memiliki ‘lurah’ di setiap kota yang ada penerima beasiswa dari Indonesia. Tugas lurah adalah menjadi penghubung antara sesama penerima beasiswa LPDP dan meneruskan pertanyaan atau saran ke pengurus beasiswa LPDP.


Untuk info lengkap mengenai kuliah di University of Amsterdam, klik di sini.


Proses Persiapan Menjadi Ph.D. Candidate

Joko mengakui proses yang dihadapi sebelum kuliah S3 cukup panjang.

Pertama, karena statusnya sebagai PNS, maka harus menunggu persetujuan atasan dulu sebelum Joko bisa melanjutkan studi S3. Persetujuan atasan ini turun di tahun 2014, sehingga setelahnya Joko baru bisa mempersiapkan studinya dengan serius.

Persiapan apa saja yang dibutuhkan untuk S3 di Eropa?

Menurut Joko, ada dua hal yang harus dipersiapkan, yaitu admission (diterima di universitas pilihan) dan pembiayaan. Kedua hal ini kira-kira membutuhkan waktu persiapan sekitar 1 – 1,5 tahun.

Agar dapat diterima di universitas, Joko harus menyiapkan proposal riset/disertasi, karena tujuan S3 adalah mencetak peneliti yang mandiri. Proposal riset sebaiknya memiliki tujuan dan pertanyaan penelitian yang jelas dan bisa diteliti dalam kurun waktu Ph.D. (sekitar 3 tahun). Setelah menyusun proposal, Joko melanjutkan dengan mencari professor yang mau menjadi promotornya (pembimbing).

Bagaimana mencari siapa professor yang tepat untuk menjadi pembimbing?

Joko menuturkan kalau selama menyusun proposal, pasti kalian akan banyak membaca buku atau jurnal ilmiah. Nama-nama professor yang sesuai dengan bidang studi kalian biasanya ada di dalam kutipan buku atau jurnal. Selebihnya tinggal mencari cara untuk mengontak para professor ini. Joko sendiri awalnya mengirimkan email ke 12 professor dari beberapa universitas di Eropa untuk berdiskusi mengenai proposal disertasinya.

Dari 12 professor yang diemail Joko, ternyata hanya 5 yang membalas emailnya. Lalu setelah diskusi lanjutan, ada 2 professor yang menyatakan siap menjadi dosen pembimbing Joko dengan syarat Joko bisa mencari pendanaan untuk S3 sendiri. Satu orang dari Australia National University, dan yang lainnya dari University of Amsterdam.

Joko akhirnya memilih University of Amsterdam karena merasa bisa lebih bekerjasama dengan professor dari negeri kincir angin ini, dan professornya sangat responsif.

Supervisor (dosen pembimbing) itu segala-galanya, lebih penting dari milih jodoh, yang menentukan hidup matimu“ tutur Joko.

Sebagai informasi untuk kalian, studi S3 di Belanda berarti kalian harus memiliki minimum 2 supervisor dan maksimum 4 supervisor, dimana salah satunya harus Professor dan yang lainnya boleh Associate Professor. Joko menyarankan untuk memilih satu Professor yang memiliki bidang penelitian yang sama dengan apa yang ingin kalian teliti, carilah yang sudah bergelar Professor karena mereka yang bisa mengeluarkan surat Letter of Acceptance.

Kalau Professor sudah setuju untuk menjadi supervisor kalian, biasanya universitas pasti akan setuju untuk menerima kalian. “Setelah mendapatkan supervisor, selebihnya hanya administratif saja” menurut Joko.

Setelah mendapatkan supervisor, persiapan kedua yang harus dilakukan Joko adalah mencari pendanaan.

Joko sempat melamar di beasiswa BPPLN Dikti dan LPDP. Salah satu syarat utama untuk beasiswa adalah kemampuan dalam bahasa Inggris (TOEFL/IELTS). Joko hanya belajar bahasa Inggris semasa sekolah, namun yakin bahwa bahasa Inggrisnya tergolong bagus. Sebelum tes, Joko membeli buku persiapan TOEFL dan IELTS lalu belajar sendiri selama 3 bulan. Joko mengambil tes TOEFL iBT dan juga IELTS, dan berhasil memperoleh skor 102 untuk TOEFL iBT dan skor 7 untuk IELTS. Di akhir proses, Joko akhirnya mendapat kabar kalau dirinya berhasil mendapat beasiswa dari LPDP.


Untuk informasi lengkap mengenai beasiswa LPDP untuk kuliah di Belanda, klik di sini.


Pengalaman Studi S3 di Belanda

Menurut Joko, kuliah di Belanda bisa menambah tingkat critical thinking mahasiswa. Karena secara kultur orang-orang di Belanda sudah dilatih untuk berpikir kritis.

Ditambah dengan budaya mereka yang memang straightforward, kadang membuat kaget mahasiswa dari Indonesia. Joko memberi contoh kalau memanggil professornya langsung dengan nama depan saja, tanpa kata sapaan seperti di Indonesia. Dan terkadang Joko dibuat terkejut dengan pertanyaan-pertanyaan kritis yang diajukan, baik oleh supervisor-nya maupun rekan mahasiswa.

Tapi hal di atas jangan membuat kalian jadi minder untuk kuliah di Belanda ya, karena menurut Joko, banyak orang Asia yang outstanding di sana. Kalau kalian bisa masuk ke universitas di Belanda, berarti kalian juga outstanding.

Budaya lain yang perlu dicontoh dari Belanda, menurut Joko, masyarakat di Belanda tidak terbiasa untuk menilai orang lain dari penampilan fisiknya. Menjadi aneh disana adalah hal yang lumrah. Selama orang tersebut tidak mengganggu orang lain, maka mereka bebas berekspresi dan menjadi dirinya sendiri.

Selain budaya, Joko juga menuturkan pengalaman studinya. Di Belanda, kalian bisa mengambil mata kuliah dari universitas lain untuk memenuhi credits (tailored programme) jadi tidak semua mata kuliah harus diambil di universitas tersebut. Hal ini sangat bagus karena kalian bisa mendapatkan pengetahuan dari dosen universitas lain yang memang ahli dalam suatu bidang.


Untuk info lengkap beasiswa kuliah di Belanda, klik di sini.


Studi Kedokteran di Belanda

Bagi kalian yang ingin melanjutkan studi di bidang Kedokteran di Belanda, studi Kedokteran S1 itu lamanya 3,5 tahun, ditambah koas (praktik lapangan) selama 2 tahun, jadi total S1 selama 5,5 tahun. Nah, setelahnya kalau kalian mau praktek sebagai dokter umum, kalian harus sekolah lagi, biasanya mengambil residency di RS selama 3 tahun.

Selain itu, program studi Kedokteran di Belanda juga menggunakan bahasa pengantar Belanda, karena dianggap dokter nantinya akan berhadapan dengan pasien yang merupakan orang Belanda, jadi harus paham benar permasalahan dari pasien tersebut.

Rata-rata dokter yang mengambil spesialisasi di Belanda mendaftar untuk dual degree, yaitu untuk Ph.D. dan residency (spesialis). Dual degree ini akan memakan waktu sekitar 4-5 tahun, namun menurut sistem pendidikan di Belanda, baik Ph.D. maupun residency keduanya tidak dianggap mahasiswa sehingga layak untuk menerima gaji.

Terakhir, kalau kalian adalah dokter yang sudah praktek di Indonesia, ternyata kalian juga bisa praktek di Belanda lho.

Syaratnya adalah:
  • Menguasai bahasa Belanda
  • Surat dari KKI
  • Surat keterangan tidak pernah malpraktik
  • Mengikuti ujian kompetensi dokter Belanda (teori dan praktek)
  • Adaptasi dengan mengikuti koas selama 3 bulan hingga 1 tahun di Belanda

Nah, interview dengan Joko Mulyanto ternyata banyak memberikan informasi berguna kan?

Terima kasih banyak atas waktunya kak Joko, semoga studi Ph.D. nya lancar dan bisa lulus tepat waktu di 2020!

Ingin kuliah kedokteran di Belanda tapi masih bingung?

Perwakilan Nuffic Neso Indonesia (Kedutaan Belanda) siap membantumu di EHEF Indonesia 2018. Jadi daftarkan dirimu di sini dan siapkan pertanyaan-pertanyaanmu dari sekarang ya!