Media

Language

Menerima Tantangan Untuk Meraih Mimpi

Last updated on 11 Sep 2017

Oleh: Herman Wahidin

Sumber: https://medium.com/kerjabilitas/menerima-tantangan-untuk-meraih-mimpi-6167b7bccdcb

Herman Wahidin.jpg

Nama saya Herman Wahidin, lahir di Jakarta 39 tahun yang lalu. Kondisi disabilitas saya saat ini akibat kecelakaan bus pada tanggal 10 Juli 2005 di daerah Cikidang, Sukabumi, di mana tulang belakang saya hancur pada torakal 11 dan 12. Tindakan medis telah dilakukan tapi saya harus berserah diri menerima kenyataan menjadi paraplegia (kehilangan fungsi motorik dan sensorik pada kedua kaki), sehingga sehari-hari saya harus menggunakan kursi roda untuk beraktivitas.

Ketika kecelakaan, usia saya masih 27 tahun, usia yang masih sangat produktif dan jenjang karir saya pun sedang meningkat. Saat itu, saya baru pindah kerja dan mendapat posisi sebagai IT Manager di sebuah klinik swasta, Medikaloka Health Care, di daerah Kuningan, Jakarta Selatan. Setelah kecelakaan, saya bertekad untuk berhenti bekerja dan memulai usaha sendiri saja di rumah. Tapi atasan saya berkehendak lain meski saya sudah berulang kali meminta berhenti.

Beliau mengatakan “masa saya punya iman buat kamu (untuk bekerja di kantor), tapi kamu tidak punya iman buat diri kamu sendiri”.

Kata-kata ini seperti tamparan keras di wajah saya, sehingga setelah rehabilitasi medis sekitar 1 bulan di R.S. Fatmawati, saya pun bekerja kembali di posisi saya sebelumnya. Dari pengalaman ini saya menyadari bahwa kita tidak perlu malu dengan kondisi disabilitas kita, pupuklah kepercayaan diri dan teruslah berkarya.

Setelah bekerja selama 6 tahun di klinik tersebut, saya pindah kerja ke Bank Danamon sebagai Information System Analyst di Divisi Human Resources. Lingkup pekerjaan dan tanggung jawab saya semakin besar karena sistem IT yang ditangani terkait dengan data puluhan ribu pegawai. Sewaktu masih bekerja di bank tersebut, saya menonton salah satu acara talk show di televisi yang narasumbernya adalah mereka para penyandang disabilitas yang mampu melanjutkan studi ke luar negeri. Sempat terbersit di pikiran saya untuk bisa kuliah ke luar negeri seperti mereka. Kebetulan di suatu acara gereja, saya bertemu dengan Mimi Mariani Lusli, penyandang tunanetra, pendiri Mimi Institute yang merupakan salah satu narasumber pada acara yang saya tonton. Singkat cerita, saya pun bertukar pesan singkat dengan beliau untuk menanyakan soal beasiswa, dan disarankan untuk mencoba Australia Awards Scholarships, beasiswa yang sepenuhnya didanai oleh Pemerintah Australia. Berangkat dari informasi ini, saya mencari tahu mengenai beasiswa tersebut dan pada tahun 2013 memberanikan diri untuk mendaftar. Di penghujung tahun yang sama saya mendapat kabar bahwa saya tidak lolos seleksi awal, sungguh kecewa tapi saya tidak putus asa. Di tahun 2014, saya pun mencobanya lagi. Puji Tuhan, kali ini saya berhasil lolos seleksi awal dan lolos seleksi wawancara. Saya pun dipastikan dapat berangkat ke Australia untuk melanjutkan pendidikan S2.

Ada tantangan tersendiri ketika mendapatkan beasiswa. Saat itu saya sudah bekerja cukup mapan dan dengan keputusan itu berarti saya harus berhenti dari pekerjaan. Hal lain adalah saya telah 15 tahun meninggalkan bangku kuliah, sehingga sekarang saya harus mempersiapkan diri kembali menjadi mahasiswa (saya lulus S1 dari Teknik Elektro Universitas Trisakti tahun 2001). Sempat juga terbersit kekhawatiran, setelah lulus nanti saya akan bekerja di mana. Tetapi syukur pada Tuhan saya memiliki istri (kami menikah pada tahun 2010) yang mendukung cita-cita saya dan memupuk keyakinan saya untuk menghadapi tantangan ini. Berhenti dari pekerjaan di tahun 2015 dan kemudian mengikuti program persiapan beasiswa, saya pun akhirnya berangkat ke Australia pada Januari 2016. Di Australia, saya mengambil jurusan Master of Information Systems di University of Melbourne dengan masa studi 2 tahun.

Perhatian pemerintah Australia terhadap awardee (sebutan penerima beasiswa) penyandang disabilitas sungguh luar biasa. Sejak persiapan keberangkatan semua kebutuhan saya di Australia sudah diperhitungkan. Untuk hal ini, ada seorang Disability Technical Adviser (Penasihat Teknis Disabilitas) yang ditugaskan untuk merancang Disability Support Plan (Rencana Dukungan Disabilitas), dari mulai kebutuhan carer (pendamping), subsidi tempat tinggal, assistive devices (perangkat bantuan), sampai medical check-up (cek kesehatan), semuanya telah dianggarkan yang tentunya disesuaikan dengan kebutuhan awardee. Inisiatif Disability Support Plan ini sendiri awalnya disuarakan oleh salah satu awardee penyandang disabilitas sehingga akhirnya menjadi suatu kebijakan. Awardee tersebut adalah Bapak Antoni Saputra yang lulus dari Griffith University tahun 2011.

Dengan adanya Disability Support Plan, saya tidak menemui kendala yang berarti saat pertama tiba di Melbourne, Australia. Saya sudah langsung bisa menempati student accommodation (akomodasi mahasiswa) yang aksesibel, dipanggilkan Occupational Therapist (Terapis Okupasi) untuk melakukan assessment (penilaian awal) kebutuhan assistive devices saya, dan diketemukan dengan Disability Support Officer (Petugas Dukungan Disabilitas) yang membantu saya untuk pengenalan kampus. Meskipun tempat tinggal saya dekat dengan kampus, tapi kondisi jalanannya menanjak. Oleh karena itu pada awalnya saya disewakan kursi roda listrik, sampai kemudian pesanan kursi roda baru saya dengan perlengkapan motornya tiba. Perlengkapan assistive devices ini menjadi hak milik kita dan dapat dibawa pulang saat balik ke Indonesia nanti.

Mengenai aktivitas perkuliahan, hampir semua ruangan tempat belajar-mengajar di University of Melbourne aksesibel untuk kursi roda, walaupun masih ada beberapa ruangan terutama di bangunan-bangunan tua yang tidak aksesibel. Oleh karenanya, sebelum semester dimulai saya biasa mengecek setiap ruangan kelas yang akan dipakai untuk belajar dan apabila ruangan tersebut tidak aksesibel, saya tinggal mengirimkan email ke Academic Support Coordinator (Koordinator Dukungan Akademis) untuk menginformasikannya. Tidak memakan waktu lama, perubahan ruangan kelas ke tempat yang lebih aksesibel diperbaharui ke sistem dan diumumkan ke dosen dan semua mahasiswa yang terdaftar di kelas tersebut. Akses ke toilet untuk penyandang disabilitas juga sangat mudah karena tersedia hampir di semua gedung yang ada.

Kemudian terkait pergaulan dan sosialisasi di kelas, saya pun tidak menemui kendala. Selama 3 semester yang telah saya lalui, saya telah bertugas kelompok dengan teman-teman dari berbagai latar belakang kebangsaan (selain dari Indonesia), seperti Australia, Irlandia, India, Srilanka, Bangladesh, Cina, Korea, Vietnam, Filipina, Samoa, Arab Saudi, dan Iran. Bisa dikatakan tidak ada diskriminasi yang pernah saya alami selama tinggal dan studi di Melbourne.

Perihal transportasi publik juga sangat memuaskan. Semua kereta api dan bus aksesibel, hanya untuk trem masih ada beberapa trem lama dan beberapa pemberhentian trem yang tidak aksesibel. Saya juga sangat menikmati menyusuri trotoar di kota Melbourne dengan kursi roda. Jalanannya mulus dan lebar, setiap persimpangan dan penyeberangan jalannya pun terdapat bidang miring. Satu hal lagi yang saya sukai adalah kemudahan untuk menyewa mobil. Kebetulan saya bisa mengendarai mobil dengan tambahan portable hand control (kendali rem dan gas di tangan). Di kota Melbourne ini ada beberapa perusahaan yang bekerja sama dengan pemerintah kota, menempatkan mobil-mobil sewaan mereka di area parkir dekat pemukiman. Untuk menyewanya, saya cukup mendaftar online untuk pertama kali, mendapatkan kartu, dan berikutnya tinggal melakukan pemesanan secara online. Penyewaan mobil ini biasanya saya lakukan apabila ingin bepergian ke tempat-tempat wisata yang cukup jauh seperti Phillip Island dan Great Ocean Road.

Fasilitas untuk penyandang disabilitas juga cukup memanjakan kita. Sebagai penyandang disabilitas saya bisa mengajukan kartu parkir khusus dan dengan kartu tersebut saya bisa parkir di tempat-tempat umum yang menyediakan parkir khusus disabilitas. Untuk di kota Melbourne, biaya parkirnya gratis apabila memiliki kartu tersebut. Selain itu ada juga carer card (kartu pendamping) di mana istri saya sebagai pendamping bisa mendapatkannya. Dengan kartu pendamping ini istri saya mendapatkan diskon 50% untuk transportasi umum dan gratis bepergian pada akhir pekan. Manfaat lainnya adalah diskon ataupun gratis biaya masuk untuk beberapa tempat rekreasi di negara bagian Victoria.

Kemudahan-kemudahan yang saya temui selama di Australia ini sengaja ingin saya bagikan karena saya yakin negara kita, Indonesia, sebenarnya juga mampu menyediakan fasilitas-fasilitas yang ramah untuk penyandang disabilitas. Terlebih lagi dengan telah diterbitkannya Undang-Undang №8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, di mana penyandang disabilitas telah diakui hak asasi manusianya untuk mendapatkan penghormatan, pemajuan, dan perlindungan dari negara.

Herman Wahidin 1.png Dalam acara disability workshop yang diadakan oleh Australia Awards Indonesia. (sumber: medium.com)

Tidak berhenti hanya di fasilitas publik, saya juga menaruh perhatian pada pemberdayaan penyandang disabilitas untuk dapat bekerja. Saya yakin dengan bekerja, kualitas hidup penyandang disabilitas akan meningkat. Mereka akan menjadi lebih mandiri dan percaya diri. Perlu diketahui, dari data PBB yang saya peroleh, tingkat pengangguran di usia produktif bagi penyandang disabilitas di negara-negara berkembang mencapai 80–90%. Angka yang sangat besar bila dibandingkan dengan Australia yang hanya 47%. Mengingat pentingnya dunia kerja ini, pada semester terakhir yang saya jalani sekarang, saya mengambil riset dengan topik “The Use of Assistive Technology in The Workplace for People with Visual Impairment”, di mana saya akan meneliti penggunaan assistive technology (teknologi bantuan) untuk para tunanetra dan efektivitasnya dalam meningkatkan pengalaman dan partisipasi di tempat kerja. Berdasarkan wawancara awal yang saya lakukan terhadap beberapa responden, di Australia mereka memiliki badan pemerintah bernama JobAccess yang dapat membantu semua persiapan bagi penyandang disabilitas yang telah diterima bekerja di perusahaan. Solusi dan pendampingan yang mereka lakukan mencakup informasi, pemilihan, dan pembelian assistive technology. Pihak perusahaan yang mempekerjakan penyandang disabilitas tidak perlu mengeluarkan biaya apapun untuk teknologi dan modifikasi tempat kerja yang diperlukan, semuanya ditanggung oleh pemerintah melalui JobAccess.

Selain proyek penelitian, di semester ini saya juga terpilih sebagai salah satu anggota dari tim Engineering Projects in Community Service (EPiCS), semacam pelayanan kepada masyarakat dari University of Melbourne. Anggota tim yang dipilih berasal dari berbagai jurusan dan berjumlah 10 orang. Kami harus mendesain dan membuat high-quality multi-sensory toys (mainan multi-sensor kualitas tinggi) untuk anak-anak dengan Autism Spectrum Disorders (ASD) atau anak-anak dengan gangguan spektrum autisme. Hal ini mungkin dapat menjadi contoh bagi perguruan tinggi di Indonesia sebagai bentuk kepedulian terhadap anak-anak berkebutuhan khusus.

Mengenai JobAccess, seperti yang telah diterangkan di atas, tentunya menjadi pekerjaan rumah sendiri bagi pemerintah Indonesia untuk dapat mencapainya. Oleh karena itu saya sangat senang melihat partisipasi aktif dari para pemerhati di luar pemerintah seperti Tim Kerjabilitas.

Saya mengikuti perkembangan Kerjabilitas dari awal start up hingga saat ini, dan saya menaruh harapan besar bahwa Kerjabilitas dapat selalu menjadi saluran berkah bagi para penyandang disabilitas di Indonesia dalam mendapatkan pekerjaan. Pesan saya untuk para penyandang disabilitas; jangan mudah menyerah, tingkatkan terus kemampuan dan pengetahuan kita, tunjukkan bahwa kita MAMPU. Salam sukses!